Jump to content



Photo
- - - - -

Babad Tanah Jawi/jawa Bagian Iii

babad tanah jawa legenda cerita

  • Please log in to reply
No replies to this topic

#1 Endah Indryono

Endah Indryono

    Begawan

  • Pengasuh
  • 852 tulisan
  • LocationJakarta, Indonesia

Ditulis pada 22 Oktober 2013 - 11:07

Siyung Wanara

 

Kemudian diceritakan ada ajar (brahmana), bertapa di Gunung Pajajaran bernarna Cepaka. Ia terkenal cerdik, menguasa; sembarang ilmu. dan tahu segala yang akan terjacli. Berita itu dilaporkan kepada Raja. Sang Prabu berniat menandingi kepandaiar. Ki Ajar. Ia memerintahkan kepada patihnya untuk datang ke gunung bertemu dengan Ki Ajar dengan membawa piaraan selir. Di deka: perutnya dipasangi bokor persis ggperti orang hamil, supaya ditebak oleh Kyai Ajar laki—laki atau perempuan kandungannya itu. Ki Patih lalu berjalan naik gunung melaksanakan perintah raja untuk Ki Ajar. Ki Ajar sadar bahwa ia sedang clicobai kepandaiannya oleh sang Raja. Kanclungan itu ditebak aclalah laki-laki.

 

Ki Patih segera lapor kepada sang Prabu. Sang Prabu sangatsuka hatinya, sebab Ki Ajar telah bohong. Setelah selir dilepas kainnya bokor tidak ada, betul-betul ada kandungannya. Sang Raja sangat ma-rah lalu memerintahkan agar membunuh Ki Ajar. Setelah Ki Ajar me-ninggal terdengarlah suara yang ditangkap oleh sang Raja. Demikiar suara itu, "Eh, sang Raja di Pajajaran, aku telah kau bunuh tanpa dos: Kelak aku akan membalas kepadamu. Jika ada orang bernama Siyung Wanara, di situlah balasanku.”

 

Kemudian negeri Pajajaran kena bencana besar. Banyak Oran; yang meninggal, hingga menjadikan sedih hati sang Raja. Lalu Raja me-manggil para ahli nujum untuk menolak dan memagari bencana. Sem-bah para nujum kepada sang Raja supaya bersuka-ria dan makan enak. Selesai makan lalu meniduri orang perempuan. Itulah yang menjadi pe-nolak dan pepagar. Tetapi kelak sang Raja akan menemui celaka, dibu-nuh oleh putranya sendiri, yang lahir dari istri selir.

 

Sang Raja melaksanakan petunjuk dari para nujum. Selesai ber-suka-ria, makan enak, raja mabuk berat lalu meniduri selir yang ditebak hamil oleh Ki Ajar tersebut. Setelah sampai saatnya tiba kandungannya lahirlah seorang bayi laki-laki. Sang raja ingat ramalan para ahli nujum. Bayi lalu diberi bisa, tetapi tidak mempan. Mau dicabik-cabik tetapi para emban mengahalang-halanginya. Kata mereka bila ia bersikukuh ingin membunuh bayi itu, sebaiknya dimasukkan saja ke dalam kotak, dibuang ke Sungai Krawang.

 

Sang Raja menyetujui, bayi dimasukkan ke dalam tabel (kotak/peti mati) lalu di buang ke sungai Krawang. Kotak yang diambil lalu diambil sesorang pencari ikan yang bernama Kyai Buyut Krawang. Setelah di buka di dalamnya ada bayi yang tampan. Kyai Buyut begitu senang hatinya. Lalu di bawa pulang, diserahkan kepada istrinya. N yai Buyut karena tidak punya ‘anak, jadi merasa gembira sekali. Iabang bayi itu lalu dipelihara. Setelah dewasa, anak itu tidak yakin jika Kyai Buyut adalah bapak sebenarnya. Ia memohon supaya diberitahu yang sesungguhnya. Sang Kyai terdorong untuk memuaskan keinginan anak-nya itu, ia berdusta, mengatakan bahwa ia punya saudara sedang ber-tapa di tengah hutan yang tahu atas segala hal yang belum terjadi. Hal itu dapat melegakan atas sesuatu yang ditanyakan tadi. Dalam ba-tin Kyai Buyut berkata, "Rasanya tak mungkin terlaksana anak itu da-tang ke tengah hutan; sebab terlalu jauh.” Tetapi dugaannya ternyata meleset, anak itu malah minta diantar ke sana. Dalam perjalanannya anak yang sudah menginjak remaja itu melihat kera dengan seekor bu-rung siyung. Lalu bertanya kepada Kyai Buyut tentang nama binatang-binatang itu. Kyai Bnyut lalu memberi tahu nama binatang tersebut. Ia mengambilnya menjadi nama si anak. Anak itu diberi nama Siyung Wanara.

 

Setelah begitu lama berjalan, Siyung Wanara bertanya di mana rumah saudaranya itu. Kyai Buyut bingung dalam hatinya, membelok-kan bahwa saudaranya itu sudah pindah ke negara Pajajaran. Peker-jaannya sebagai tukang besi. Siyung Wanara sangat senang hatinya, niatnya ingin melihat kota. Minta supaya diantar ke rumah saudaranya, tukang besi itu. Kyai Buyut menurut. Sesampainya di rumah tukang besi Siyung Wanara diserahkannya, lalu di tinggal pulang. Selama tinggal di rumah tukang besi, Siyung Wanara belajar meng-olah besi. Tidak lama kemudian ia sudah bisa menggunakan lututnya untuk landasan, tangannya untuk palu, jari-jarinya untuk gunting. Ba-nyak orang yang datang ke rumahnya, menyaksikan kesaktian Siyung Wanara.

 

Ketika Siyung Wanara pergi ke pasar bersama Kyai Pande (pandaibesi), gajah milik Raja Pajajaran baru dimandikan. Ketika melihat Siyung Wanara, gajah itu lalu menghampirinya, menunduk di depannya. An-daikata dapat berbicara, sepertinya demikian, ”Gusti, silakan naikilah saya, saya bawa menghadap ayahandamu sang Prabu.” Gajah dielus gadingnya. Dan orang-orang yang menyaksikan heran semua.Alkisah sang Prabu di Pajajaran sedang keluar gelanggang, baru menghibur diri dengan perang adu tanding. Siyung Wanara menon-ton. Dicegah oleh Kyai Pandai Besi tidak bisa. Setibanya di balairung ia duduk sejajar dengan sang Rajai; Tidak ada orang yang tahu. Lalu masuk ke istana, berhenti di Balai Sawo. Adapun Balai Sawo itu, jika disentuh, berbunga seperti seperangkat gamelan. Balai lalu diduduki Siyung Wanara. Berbunyi, suaranya riuh, membuat terkejut sang Raja. Ia sangat murka, lalu memerintahkan menangkap orang yang lancang berani menyentuh balai. Para abdi menteri bergerak. Siyung Wanara dijumpai tidur di di BalaiSawo itu, lalu ditubruk. Siyung Wanara meng-elak. Para abdi menteri terpelanting. Banyak yang menemui ajalnya. Sisanya lari, memberi laporan kepada sang Prabu. Raja sangat berke-nan hatinya menyaksikan kesaktian Siyung Wanara. Ia lalu diangkat sebagai abdi keraton, dan sering diutus memimpin prajurit merebut ke-kuasaaan negara lain.

 

Begitu besar kasih sayangnya, Siyung Wanara, diangkat kedu-dukannya diberi gelar Arya (gelar bangsawan) Banyak Wide serta di-beri kekuasaaan berupa tanah sepuluh ribu karya kuasanya. Selain itu, ia diaku putra, diberi wewenang melaksanakan hukuman badan dan hukuman mati.

 

Banyak Wide mengumpulkan para pandai besi. Mereka diperin-zalikan membuat tempat tidur dari besi dengan memakai pintu. Sete-lali selesai dan dihias, diletakkan di rumah singgahnya.

Pada waktu itu Pajajaran kedatangan musuh. Sang Prabu me-nang perangnya. Banyak Wide menghadap sang Raja. Ia punya kaul jika sang Raja unggul di peperangan, maka Raja diundang berpesta kerumahnya. Sang Raja juga berkenan lalu datang ke rumah Banyak Wide untuk berpesta. Selesai bersantap sang Raja melihat tempat tidur besi, ia bertanya apa manfaat dari tempat tidur besi itu. Arya Banyak Wide menjawab, ”]ika orang sedang lesu lalu tidur di situ, akan rnenjadi segar. jika orang panas bisa menjadi dingin, jika dingin bisa menjadi panas. Orang sakit lalu sembuh." Sang Raja ingin membuktikan, lalu tiduran di tempat tidur besi tadi. Setelah Banyak Wide tahu sang Raja sedang tiduran, pintu tempat tidur dikunci dari luar. Teman-temannya disu-ruh untuk Inengangkatnya, akan dibuang ke Sungai Krawang. Seka-rang ia membalas kepada sang Raja. Tempat tidur besi jadi dibuang ke sungai.

 

Hal itu diketahui oleh putra sang Raja yang bernama Raden Sesu-ruh. Ia lalu siap bertindak, akan menangkap Arya Banyak Wide. Tidak lama kemudian terjadilah perang ramai. Kelompok Wide banyak yang tewas, sebab diamuk oleh Raden Sesuruh. Banyak Wide keluar meng-hadapi Raden Sesuruh. Bertemu berhadap-hadapan Raden Sesuruh di-panah, kena kainnya lepas. Raden Sesuruh sangat malu serta gentar, mundur lalu meloloskan diri. Berjalan ke timur lurus, berhenti di dusun Kali Gunting di rumah seorang randa (janda). Raden Sesuruh lalu di-ambil jadi anak.

 

Selepas Raden Sesuruh melarikan diri, Arya Banyak Wide lalu menjadi raja di Pajajaran. Ia lalu memerintahkan kepada para abdi ba-wahan semua, tidak merelakan jika rumalmya diternpati Raden Sesu-ruh. Siapa yang melanggar larangan itu akan mendapat hukuman be-rat.

 

Karena dusun Kali Gunting termasuk wilayah Pajajaran Nyi Ran-da beserta tiga saudaranya yang bernama Ki Wira, Ki Nambi, Ki Ban-dar sangat ketakutan atas larangan sang Raja. Mereka berunding de-ngan Raden Sesuruh mencari jalan keluar yang paling baik. Kata Ra-den Sesuruh ia akan pergi entah ke mana, jangan sampai Nyi Randa mendapat kesulitan. N yi Randa beserta saudara-saudaranya harus ikut dalam perjalanannya. Kemudian mereka pergi dari dusun Kali Gesing. Rombongan N yi Randa yang ikut ada sekitar seratus orang, yang dituju adalah Gunung Kombang. Di situ ada seorang pertapa bernama Ce-mara Tunggal, tersohor cerdik serta tahu segala yang belum terjadi, menguasai semua roh halus di seluruh tanah Iawa.

 

Ketika Ajar Cemara bertemu dengan Raden Sesuruh, ia sudah tahu apa yang menjadi kemauannya. Kyai Ajar kemudian memberi petunjuk, supaya Raden Sesuruh berjalan lurus ke timur. Iika menemu-kan pohon maja hanya satu, yang berbuah satu, isinya pahit, bertempat tinggalah di situ. Tempat itu kelak kemudian hari akan menjadi negeri yang besar. Raden Sesuruh yang akan menjadi rajanya, menurunkan para raja di tanah Iawa, serta akan membalas kepada Raja Pajajaran. Adapun Ajar Cemara Tunggal tadi bukan pertapa yang sebenarnya. Dulunya ia adalah putri dari Pajajaran, adiknya ikut kakeknya Raden Sesuruh.

 

Lolos dari kerajaan, ia jadi pertapa karena menolak untuk bersua-mi. Banyak faja yang melamar, semuanya ditampik. Selepas dari kera-jaan Pajajaran, sampai di Gunung Kombang. Di situ ada pohon cemara hanya satu, dari sifulah nama Cemara Tunggal. Raden Sesuruh telah diberitahu hal itu, lalu ajar Cemara menjelma dalam warna yang lama, jadi perempuan yang cantik sekali. Raden Sesuruh sampai tergila-gila mendekati mau memegang. Perempuan itu tiba-tiba musnah. Tidak lama kemudian tampak lagi tetapi sudah men-jadi seorang pertapa lagi. Raden Sesuruh berjongkok, serta mohon maaf.

 

Ajar Cemara menasihati lagi, bahwa kelak mereka akan bertemu lagi bila Raden Sesuruh sudah menjadi raja dan menguasai seluruh tanah Jawa. Kyai Ajar akan pindah ke laut-pasir. Di situ ia akan menjadi ratu menguasai semua makhluk halus. Lalu akan pindah ke Paman-tingan. Adapun keturunan Raden Sesuruh akan mendirikan istana di utara Pamantingan, sebelah Gunung Merapi. Siapa saja yang menjadi raia di tanah Jawa akan memperistri ajar Cemara Tunggal. Akhirnya Raden Sesuruh dipesan jika kelak menghadapi kesulitan supaya me- manggilnya. Ia tentu segera datang untuk membantu beserta pasukan lelembut. Setelah selesai memberi nasihat, Raden Sesuruh segera be- rangkat menuju Negeri Singasari.

 

Setelah berpamitan Raden Sesuruh lalu berangkat beserta rom-

bongannya seratus orang jumlahnya. Di hutan mereka berhenti di ba-

wah pohon maja, buahnya hanya satu. Raden Sesuruh ingat pesan ajar

Cemara Tunggal. Buah maja supaya dipetik. Setelah dimakan rasa

pahit. Raden Sesuruh lalu bertempat tinggal di situ dan memberi nama

Majapahit.

 

Setelah itu banyak orang datang, ikut membangun rumah di situ

serta bercocok tanam. Lama kelamaan menjadi negeri yang besar, ter-

sohor di mana-mana.







Artikel terkait dengan tag: babad tanah jawa, legenda, cerita

0 pengunjung sedang membaca topik ini

0 member, 0 tamu, 0 anonymous


DMCA.com Protection Status