Jump to content



Photo
- - - - -

Petualangan ketempat misteri di Bali - Kuburan Trunyan


  • Please log in to reply
No replies to this topic

#1 Benny

Benny

    Penyimak

  • Murid
  • Pip
  • 17 tulisan

Ditulis pada 17 April 2017 - 08:15

Lebih dari 3 tahun di Bali karena pekerjaan membuat Amdal, tidak menyurutkan semangat untuk hunting pusaka. Tetapi sayangnya memang disana jarang sekali ada pusaka tarikan seperti gaman, macam keris atau tombak yang bisa ditarik.
 
Berbeda dengan ditanah Jawa yang hampir setiap keris yang berhasil ditarik karena memang ada 'isinya'. Di Bali, sekalipun dibekas-bekas lokasi pertempuran hampir tidak pernah bisa menarik pusaka disana. Sekalipun pernah sekali atau dua kali menarik, yang didapat hanya batu akik. Itupun sepertinya bukan yang berkelas.
 
Salah satu lokasi yang katanya paling angker bin menyeramkan di Bali adalah Kuburan Trunyan. Dikatakan disana merupakan sarang leak.
 
trunyan04.jpg
 
Perjalanan ke Desa Trunyan ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Berbekal Google Maps dan menggunakan mobil sewaan seharga 125rb sehari, dikatakan kuburan Trunyan berada didaerah Kintamani, harus ke Danau Batur dulu.
 
Jalan di Bali yang memang lumayan terawat, disamping pemandangan yang indah membuat perjalanan terasa menyenangkan.
 
Sesampai di Danau Batur, ternyata masih harus sewa perahu dulu. Karena ketika itu sedang tidak musim wisata, yang dikatakan teman saya sewa perahu ke lokasi Kuburan Truyan yang bisa mencapai 150rb ternyata saya tawar 50rb saja mau, hehehe
 
Setelah naik perahu sekitar 10 menit, akhirnya sampailah di dermaga Kuburan Truyan. Terlihat beberapa wisatawan lokal berfoto dibawah plang kuburan tersebut.
 
trunyan-09.jpg
 
Sedikit bicara-bicara dengan orang yang menjaga disana dengan bahasa Bali. Ternyata ada berbagai cerita asal muasal kuburan Truyan ini. Eh, tidak sadar orang ini akhirnya menjadi semacam "GUIDE" yang menemani saya.
 
Ada 3 versi yang saya dengar dari dia, tapi yang paling menarik adalah versi tentang pangeran dari Jawa yang katanya mendapatkan wangsit mengenai ada Dewi Cantik dari golongan gaib yang menghuni Pohon Sakti yang berada didesa ini bernama Taru Menyan. Hingga akhirnya sang Pangeran dengan bersusah payah berusaha mencari dan menemukan sang Dewi tersebut yang menghuni Pohon Taru Menyan yang memancarkan bau wangi. Bau wangi ini membuat sang Pangeran menjadi takjub.
 
Ketika bertemu sang Dewi Gaib, cinta bersemi, akhirnya sang Pangeran menikahi Dewi tersebut dan membuat kerajaan disana. 
 
Walaupun telah menikah, ternyata pohon tersebut tetap memancarkan bebauan yang wangi. Karena dikhawatirkan akan mengundang kerajaan lain untuk masuk, akhirnya ditempatkanlah mayat begitu saja, tanpa dikubur atau di Ngaben seperti kebiasaan masyarakat Bali pada umumnya. 
 
Dari beberapa artikel yang saya baca, desa Trunyan ini termasuk orang Bali asli, yang bukan merupakan pindahan dari kerajaan Majapahit. Sehingga memiliki budaya yang unik, salah satunya ini.
 
Karena sudah menjadi tujuan wisata, tempat ini ketika siang tidaklah terasa angker, terlihat beberapa wisatawan lokal berfoto dilokasi pekuburan sambil memegang kepala tengkorak yang digeletakan begitu saja dibawah Pohon Taru Manyan. Juga terlihat mayat yang kelihatan baru dalam lindungan anyaman bambu disitu.
 
Saya juga tidak merasakan bebauan seperti bangkai, getaran gaib, yang menimbulkan rasa merinding atau jantung berdebar. Terasa biasa saja. Bau seperti hutan yang sangat kental, seperti daun basah tapi kuat sekali, saya yakini inilah yang menghilangkan bebauan dari mayat tersebut.
 
1546398pohon-trunyan780x390.jpg
 
Tidak sadar dengan 'Guide' ini terjalin keakraban. Sehingga saya diundang untuk kerumahnya yang berjalan sekitar 20 menit dari lokasi pekuburan.
 
Rumah-rumah didesa ini terlihat kuno dan tradisional. Ketika masuk rumahnya, 'hawa' modern 'menyerbak'. TV LED 32" sedang menampilkan siaran HBO dari parabola. Bayangan saya desa terpencil ini 'ndeso' hilang sudah. Ternyata penduduk desa ini sudah maju. Hehehe
 
Sewaktu diperjalanan saya cerita mengenai hobi saya dengan yang berbau mistik dan saya cerita saya juga belajar sedikit ilmu mengenai mistik. 'Sang Guide' kelihatan senang sekali dan banyak cerita mengenai desa Trunyan ini.
 
Dikatakan ada orang SAKTI tetapi sudah almarhum. Tetapi secara berkala suka terlihat mendatangi penduduk yang sedang sakit atau mengalami kesusahan.
 
Akhirnya 'Sang Guide' tersebut menawarkan saya untuk tinggal dirumahnya dan malam harinya untuk kembali ke lokasi pekuburan tersebut untuk 'melihat-lihat'.
 
Jam 7 malam, ternyata langit masih terlihat terang di Bali. Dan ini biasa. Jadi kami menunggu hingga jam 10 malam baru berjalan kelokasi. Saya diberikan sarung untuk dipakai yang merupakan adat katanya.
 
Perjalanan ke lokasi yang gelap gulita, bebauan hutan yang sangat kental, ternyata sama sekali tidak menyeramkan. Sayapun mulai meningkatkan kepekaan, agar bisa merasakan getaran gaib kalau ada.
 
Sampai didekat Pohon Sakti Taru Manyan, 'sang Guide' memberi hormat dengan memberi sembah dengan kedua tangan diatas kepala. Sayapun mengikuti. Kemudian tangannya seperti mempersilakan saya dan beliau meninggalkan saya tanpa berkata apa-apa.
 
Loh!!
 
Akhirnya saya mulai membaca mantra-mantra untuk bisa merasakan dan 'melihat' gaib yang ada disana.
 
Menunggu hampir 1 jam, tidak ada tanda-tanda gaib. Hanya suara siung-siung angin dari danau saja yang memang dari pertama kali datang sudah berisik.
 
Sambil menyalakan flash di HP, saya mencari-cari 'Guide' saya tersebut. Terlihat dia sedang berjongkok dan melambaikan tangan tidak jauh dari saya. Ah!
 
Dia memberi contoh untuk membersi sembah dengan kedua telapak tangan diatas kepala.
 
Saya coba mengikuti sambil menghadap ke tumpukan tengkorak yang ditumpuk rapi. Tidak lama kemudian saya melihat puluhan 'kunang-kunang' berterbangan keluar dari kepala tengkorak.
 
Warna-warni ada yang putih, merah, kuning ada juga yang hijau. Fenomena ini pernah juga saya rasakan ketika tirakat kumkum di Curug Panjang, Megamendung Puncak. Dimana ketika itu ada ratusan 'kunang-kunang' diranting-ranting pohon besar. Tidak seperti kunang-kunang yang berwarna kuning kehijauan. Kunang-kunang gaib ini memiliki aneka warna.
 
Sayapun mulai meningkatkan kepekaan secara maksimal. Hingga akhirnya getaran-getaran gaib mulai bisa saya rasakan.
 
Seluruh bulu kuduk saya sudah meremang dahsyat. Jantungpun sudah mulai berdebar tidak karuan.
 
Entah karena berada dalam pengaruh gaib, saya mulai mendengar suara wanita dan anak-anak riuh seperti sedang bermain. 
 
Karena mata mulai terbiasa dengan kegelapan, mulai jelas pemandangan tengkorak dihadapan saya. Dan ketika itu saya melihat para kepala tengkorak tersebut seperti ada phosphor kuning. Memancarkan terang.
 
Saya menutup mata, tapi bayangkan kepala tengkorak tersebut masih terekam diotak saya, mulai membangkitkan rasa takut secara tidak sadar.
 
Sambil menguatkan niat, saya membaca mantra Lintang Kabejan. Dan mulai bernafas segi empat. Kepekaan saya tingkatkan ke telapakan tangan dan mulai mencari-cari keberadaan danyang disekitar sana. Siapa tahu ada pusaka disana.
 
Entah kenapa, gerakan hati saya selalu kearah pohon tersebut. Puncak kepekaan getaranpun selalu kearah pohon tersebut. Hingga akhirnya saya berkesimpulan untuk mencoba 'menarik' apa saja yang ada dipohon tersebut.
 
Sayapun berdiri dan mulai konsenstrasi, bernafas segi empat secara wajar, halus dan teratur. Memasang kuda-kuda dan tangan mulai seperti menarik dari depan kearah dada.
 
Pada ulangan keberapa, mulai terasa tangan saya seperti berat. Tidak lagi enteng ketika menarik. Andrenalin mulai meningkat. Jantung saya berdebar-debar makin kuat, entah karena gembira, atau takut. Bisa juga gabungan perasaan.
 
Hingga akhirnya terlihat sekilas seperti ada benda kecil terlompat kehadapan saya. Sangat cepat! Kalau saya tidak membuka mata, mungkin saya tidak akan melihat kelebatan benda tersebut.
 
Sambil menenangkan diri, saya kembalikan cara bernafas secara normal. Menutup hidung dengan jari. Dan menarik nafas dalam-dalam untuk menghilangan pengaruh gaib yang mungkin merasuk kedalam pikiran saya.
 
Pikiran saya mulai tenang. Ketika saya menarik nafas yang kesekian kalinya, suara-suara sudah betul-betul hilang dari pendengaran saya.
 
Menggunakan lampu flash di HP saya mulai mencari-cari 'barang' apa tadi yang jatuh. Hingga akhirnya saya menemukan seperti pecahan tengkorak sebesar kelingkan jari tangan.
 
Ketika memegang benda itu, tangan saya seperti tersetrum kecil, dan menimbulkan hawa panas ditangan yang memegangnya. 
 
'Sang Guide' menghampiri saya. Sambil menepuk pundak saya beliau bertanya, apakah sudah menemukan yang saya cari?
 
Saya mengangguk sambil memperlihatkan benda tadi. Beliau hanya melihat saja tidak berusaha memegangnya.
 
Akhirnya kami kembali kerumahnya, saat itu menunjukkan pukul setengah 12 malam. Sepanjang perjalanan kembali, kami hanya terdiam bisu tidak ada bersuara. 
 
Ketika sampai rumahnya akhirnya beliau mulai berkata, katanya beliau itu sempat takut karena saya tiba-tiba sempat menghilang. Kemudian dia mencari-cari saya berkeliling lokasi pekuburan, kemudian akhirnya melihat saya masih disana dan menepuk pundak saya, sampai akhirnya kami kembali.
 
Sayapun menceritakan pengalaman saya, yang dijawab beliau kalau beliau tidak mendengar suara apapun. 
 
Besok paginya ketika hendak kembali, beliau mengingatkan kalau ada kepercayaan masyarakat disini bila setiap tamu yang datang dilarang mengambil barang apapun dari sini, dan harus mengembalikannya. 
 
Dengan berat hati, akhirnya saya menaruh kembali 'barang' tarikan semalam ketumpukan kepala tengkorak disana. 



0 pengunjung sedang membaca topik ini

0 member, 0 tamu, 0 anonymous


DMCA.com Protection Status