Jump to content



Photo
- - - - -

Ilmu untuk Melihat Pencuri, Penasaran siapa sih Malingnya?


  • Please log in to reply
No replies to this topic

#1 Admin

Admin

    Begawan

  • Administrators
  • 467 tulisan
  • LocationJakarta

Ditulis pada 18 April 2017 - 07:34

Ilustrasi Toples untuk melihat maling

Ketika kehilangan barang, disamping timbul kemarahan, kesal juga sakit hati, tentunya timbul rasa penasaran mengenai siapakah malingnya?

Ibu kehilangan perhiasan warisan

Saya masih ingat kejadiannya, ketika saya 6 tahun baru masuk SD yang hanya 10 langkah dari rumah di Taman Kebon Sirih. Ibu saya berteriak-teriak histeris pagi itu.

Ternyata perhiasan warian dari nenek telah hilang. Walhasil seisi rumah kalang kabut. Tentu saja dugaan mengarah kepada para pembantu. Sehingga dikumpulkanlah para pembantu dan di Interogasi, juga kamar mereka diperiksa.

Tapi hasilnya ketika itu nihil. Para pembantu tidak ada yang mengaku, pun ketika kamarnya diperiksa, tidak ada barang yang hilang ditemukan.

Berapa hari kemudian saya diajak orang tua saya ke suatu daerah di-sekitaran Pondok Kopi dengan diantar supir keluarga yang katanya sudah ikut keluarga bahkan ketika saya belum lahir.

Bertemu dengan Mak Iyat

Setelah masuk gang-gang kecil dengan diantar sang supir yang keliatannya juga agak bingung mencari-cari alamat, akhirnya sampailah disebut rumah sederhana, dimana hanya ada satu meja diruangan, dimana diatas meja tersebut ada toples berisi air, dan kita semua duduk dilantai menunggu sang pemilik rumah.

Akhirnya seorang ibu berusia sekitar 30 sampai 40 tahun keluar dari kamar yang hanya berpintukan horden, dan menanyakan maksud tujuan ketempatnya.

Supir keluarga yang keliatannya sudah kenal dengan wanita itu, yang belakangan saya tahu namanya dengan panggilan Mak Iyat, menjelaskan maksud kedatangan kami. Dan si Mak Iyat ini mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum.

Dengan logat betawi-sunda yang kental beliau berkata mengenai hal-hal soal kehilangan, harus ikhlas dan hal lainnya yang saya sudah lupa.

Ibu saya mengangguk-angguk saja. Keliatan sekali raut wajahnya masih menyimpan kekesalan.

Hampir setengah jam Mak Iyat berkata-kata dengan logat Betawi-nya yang kental, hingga akhirnya beliau bangun dan berjalan kebelakang sambil berkata, “Tunggu ya neng,” ke ibu saya.

Melihat ‘MALING’ didalam toples

Kami menunggu lagi sekitar 15-20 menit kemudian beliau akhirnya datang dan menaruh sejumput garam ke dalam toples berisi air yang ada diatas meja.

Mulutnya komat-kamit membaca do’a atau apa saya tidak bisa mendengarnya. Kemudian Mak Iyat memanggil saya, “Den, kadie (Kesini).” Saya menengok ibu saya dan ibu saya mengangguk tanda mengijinkan.

Sayapun menghampiri Mak Iyat yang ada disisi meja lainnya. Sambil mengusap kepala saya, Mak Iyat bertanya, “Kapan neng kejadiannya?”

Dijawab ibu saya 3 hari lalu.

“Aden tau kamar ibu te (tidak)?”, tanya Mak Iyat, dan saya jawab tahu.

“Sok diliat tuh dalam toples, itu kamarna ibu?” Tanya mak Iyat lagi.

Air dalam toples yang tadinya bening kemudian seperti diorama kamar orang tua saya. Saya bingung, kok bisa?

“Bener te?” Tanya Mak Iyat lagi, dan saya hanya menjawab dengan anggukkan karena saat itu sambil saya melihat berkeliling meja mengitari toples tersebut. Betul-betul heran. Saya bisa melihat kamar ibu saya dari berbagai sudut pandang dan melihat tampilan yang berbeda.

Ibu saya memegang tangan saya sambil ikut bertanya, “Ndah, kamu liat kamar mama?” Saya jawab dengan anggukan.

Kemudian Mak Iyat berkata lagi, “Sok, diliat saha yang masuk ka kamar ibu.”

Tidak lama kemudian, terlihat pembantu lelaki katakanlah namanya Daim masuk mengendap dalam kamar melalui pintu yang kelorong menuju bagian belakang rumah. (Kamar orang tua saya memang tadinya ruang keluarga yang dijadikan kamar tidur, sehingga ada 3 pintu masuk).

Dengan cepat ke meja rias dan mengambil kotak perhiasan ibu saya kemudian keluar lagi sambil berlari dan tidak lupa menutup kembali pintu kamar. Kemudian menyimpan kotak perhiasannya diatas kamar mandi belakang.

Semua rentetan peristiwa tersebut terlihat sangat jelas dimata saya. Seperti menonton film 3 dimensi.

Kejadian yang sepintas tersebut betul-betul membuat saya kaget. Ah, masa iya si Daim? Dalam hati saya. Kan sudah lama ikut kami.

Kemudian saya bilang ke Ibu, “Ma, si Daim yang ngambil perhiasannya. Disimpen dikamar mandi belakang tuh.”

Ibu saya tersentak kaget, “bener gak?”

Saya jawab, “keliatan jelas banget tadi.”

Akhirnya kami pulang dengan tidak lupa mengucapkan terima kasih.

Kotak Perhiasan ditemukan kembali
Sampainya dirumah ibu saya mengumpulkan kembali semua pembantu, dan cerita kalau tadi kerumah orang pintar. Kemudian ibu saya menyuruh Supir keluarga untuk memeriksa kamar mandi belakang sesuai petunjuk yang saya berikan.

Dan memang ditemukan kotak perhiasan beserta isinya utuh tidak kurang satu apapun.

Penemuan kotak tersebut dan membuka isinya dilakukan dihadapan para pembantu, dan saya lihat si Daim sangat gelisah.

Ibu saya memang bijaksana, jadi berkata seperti ini, “Siapapun yang mengambil nanti ketemu ibu di paviliun. Ibu sampai malam disana, tapi kalau masih ga ngaku tinggal lihat saja siapa besok yang masuk penjara!” Kata ibu berkata tegas.

Dan keesokkannya, ternyata tidak ada satupun pembantu yang dilaporkan ke Polisi.

Ngelmu dengan Mak Iyat

Pengalaman dengan Mak Iyat ini sangat berbekas, karena berapa kali keluarga kami kehilangan barang selalu berhasil ditemukan lagi, walaupun mungkin sudah dijual ke orang lain.

Ketika beranjak dewasa dan haus akan ilmu-ilmu sayapun berusaha mencari Mak Iyat kembali.

Supir yang sudah pensiun dan tinggal di Utan Kayu, saya datangi dan saya tanyakan mengenai alamat Mak Iyat. Karena alamatnya tidak jelas akhirnya beliau mau saya ajak kerumah Mak Iyat untuk menunjukkan jalannya.

Sampai dirumah Mak Iyat, ternyata masih mengenali saya walaupun sudah berusia 23 tahun ketika itu.

Saya utarakan niat saya untuk ngelmu ilmu tersebut, dan Mak Iyat tersenyum sambil angguk-anggukkan kepalanya. Dan akhirnya hari itu juga saya mendapatkan segala petunjuk untuk mengolah ilmunya, termasuk perlengkapan dan bahannya.

Banyak ilmu yang saya dapat dari guru tidak ada namanya, jadi terkadang saya kasih nama terserah saya saja yang penting menurut saya deskriptif. Mudah diingat dan dimengerti. Terkadang saya kasih nama tempat sang guru, bisa juga pada keadaan ilmunya.

Untuk ilmu dari Mak Iyat ini saya kasih nama “Ilmu untuk melihat pencuri di Toples”.

Terakhir ketika saya datang tahun 2014, rumah Mak Iyat sudah kena gusur karena berada dalam lingkungan TPU Pondok Kopi. Dan sampai sekarang saya tidak tahu lagi bagaimana keadaan beliau. Tapi Al-Fatihan selalu saya hadiahkan untuk para guru.

Penjelasan Ilmu

Dari yang saya dapatkan dari Mak Iyat, ilmu ini termasuk ilmu khodam, dan membutuhkan anak kecil yang belum aqil balik agar bisa melihat maling yang ada dalam toples.

Anak kecil dibutuhkan karena dianggap masih suci dan tidak ada prasangka juga karena lebih mudah dipengaruhi oleh sang khodam agar bisa memberikan ‘gambar’ dalam toples tersebut.

Laku Ilmu

Sebelum mengolah ilmu, dilakukan semacam Bai’at. Seperti sumpah yang berisi aturan yang boleh dan tidak boleh dan hal-hal lain seperti berpantang fitnah.

Kemudian melakukan puasa sunnah 3 hari dimulai hari Selasa.

Pada hari terakhir yaitu malam jum’at mengadakan yasiinan. Membaca yasiin secara berjamaah sekurangnya 3 orang.

Setelah itu dilakukan proses ‘Perkenalan’ dengan sang khodam oleh guru, dalam ruang tertutup, dengan ‘perlengkapan’ dan ‘bahan’ yang umum seperti dalam mengolah ilmu khodam lainnya, dimana saat itu saya hanya mengikuti apa yang disuruh oleh guru saja. Saya lupa fenomena apa yang terjadi, tapi rasanya hampir tidak ada fenomena aneh atau bagaimana.

Cara Praktek

Dibutuhkan toples bening dari kaca berisi air 2/3 bagian. Harus air tanah, jadi bisa menggunakan air dari botol kemasan Aqua.

Kemudian air dalam toples tersebut diberi minyak misik bening, dan harus diasmak dengan asma khusus dalam hitungan tertentu, sambil kita hembuskan setiap bacaan asma-nya kedalam air.

Sampai disini toples berisi air tersebut sudah siap digunakan sebagai ‘medium’ untuk melihat maling.

Sebelum ‘bisa terlihat’ sang maling dalam toples, harus mengerjakan beberapa ritual khusus dulu, dengan membaca bacaan tertentu diruangan khusus yang tertutup, bisa kapan saja, bisa siang atau malam asalkan tidak ada sinar khusus yang masuk dalam ruangan tersebut, sambil menyiapkan ‘bahan’ yang dibutuhkan.

Kemudian ambil sejumput garam taruh dipiring putih polos, dibacakan do’a khusus sambil menghembuskan nafas ke garam tersebut pada akhir bacaan.

Setelah itu tinggal mencari anak kecil yang belum aqil balik, kemudian diusap kepalanya sambil membaca kuncinya.

Kemudian memanggil sang khodam, sambil disebutkan keperluannya, siapa yang perlu informasinya, dimana dan perkiraan kapan kejadiannya. Mengenai kejadian kalau dalam rentang waktu tertentu, maka bisa diulang-ulang beberapa kali sampai ditemukan ‘maling’-nya.

Akhirnya minta sang anak untuk ‘melihat’ kedalam toples.

Penutup

Ada ilmu serupa yang menggunakan kuku kita sebagai medium ‘layar’nya, yang namanya ‘Isbul Izhob, yang akan saya tulis dalam tulisan terpisah. Tapi mengenai akurasi Ilmu dari Mak Iyat boleh dibilang lebih akurat.

Ada saran bijaksana dari Mak Iyat, agar kita tidak perlu menghukum secara keras kepada si maling, cukup bila barang yang hilang ditemukan disyukuri saja. Kemudian bila maling tersebut dekat dengan kita, diberikan nasihat agar tidak mengulangi lagi dan kita juga harus lebih hati-hati ketika menyimpan barang agar tidak terulang. Bila sang maling orang yang tidak kita kenal, maka kita memaafkannya.

Buat para murid yang tertarik ingin mempelajari ilmu ini bisa menghubungi saya.

Semoga segala pengetahuan bisa menjadi hikmah buat kita maupun buat yang membutuhkan. Aamiin.

The post Ilmu untuk Melihat Pencuri, Penasaran siapa sih Malingnya? appeared first on Paranormal Indonesia.



View the full article




0 pengunjung sedang membaca topik ini

0 member, 0 tamu, 0 anonymous


DMCA.com Protection Status