Jump to content



Photo
- - - - -

Misteri di Sungai Cijurey Sukabumi


  • Please log in to reply
No replies to this topic

#1 Admin

Admin

    Begawan

  • Administrators
  • 468 tulisan
  • LocationJakarta

Ditulis pada 25 April 2017 - 20:22

Benteng di Cijurey

Saya akan menuliskan beberapa pengalaman spiritual di Cijurey, Sukabumi.

Berdekatan dengan desa Cijurey, ada Gunung Jawa walau tidak bisa dikatakan gunung, lebih tepatnya bukit tinggi, juga ada sungai dengan air terjun kecil, dan kebun Cengkeh keluarga yang ada disana ketika itu menyimpan begitu banyak magis. Banyak pengalaman magis kami sekeluarga pernah alami disana. Mungkin saja hanya pikiran tahayul, tetapi akal sehat akan sukar mengukurnya bila tidak mengalami sendiri.

Kali ini saya akan mengisahkan pengalaman spiritual saya di Sungai Cijurey.

Ketika itu umur saya 10 tahun. Kelas IV SD. Jadi apa yang saya tulis ini berdasarkan pengalaman yang saya rasakan ketika itu. Tentunya dengan bumbu cerita agar menarik. Jadi anggap saja tulisan ini seperti cerita belaka.

Berkaitan dengan acara keluarga, karena kakak saya nomor 3 yang tinggal di Jerman ketika itu sedang pulang ke Indonesia, sehingga akhirnya oleh orang tua diajak ke kebun keluarga yang berada di Cijurey, Sukabumi. Akhirnya kami sekeluarga hampir komplit semua tiba disana.

Orang tua saya membuat rumah berbentuk kastil/benteng. Lengkap dengan 4 menara bulatnya ditiap pojok. Dicat merah bata, bila dilihat dari jauh mirip seperti benteng betulan.

Ketika memasuki pagar, terdapat jalanan mobil dari batu kapur, dimana disamping halaman terdapat saung dari bambu dengan bangunan tinggi diatasnya yang dipakai buat mengawasi perkebunan cengkeh. Kemudian ada rumah kecil yang dipakai buat para pengurus kebun dan menaruh perlengkapan maupun pupuk.

Dan sekitar 700 meter dari pagar barulah sampai kerumah berbentuk benteng ini. Kelihatan megah dan sangat menarik. Juga didepannya rumput jarum yang halus mengelilingi sekitar rumah, terlihat begitu asri. Sedangkan pemandangannya disana? Ah, sekilas biasa saja, hanya kebun cengkeh, kemudian jendela menghadap ke gunung Jawa, yang dibawahnya hanya terlihat seperti hutan.

Tapi ketika kami naik ke atas rumah benteng, barulah terlihat pemandangan yang lebih luas, hamparan sawah, bahkan gunung halimun terlihat sangat jelas tidak lagi tertutup pepohonan. Rumah benteng yang tinggi berada diatas bukit betul-betul berhasil mengatasi tingginya pepohonan disana dan menghadirkan pemandangan yang tidak akan terlupakan.

Keceriaan berkumpulnya seluruh keluarga membuat kami ingin eksplorasi kebun cengkeh keluarga tersebut, jadi kami bertanya kepada mandor kebon mengenai lokasi-lokasi yang menarik untuk kami eksplorasi.

Tapi yang bisa dia tunjukann hanyalah batas-batas perkebunan yang katanya butuh 3 jam buat mencapainya, karena luas perkebunan yang hampir 15 hektar, bahkan sampai disebagian gunung Jawa.

Ketika itu kami tiba sekitar jam 9 pagi, setelah berangkat subuh dari Jakarta. Jadi kabut yang menutupi gunung Jawa mulai menghilang dan menghadirkan pemandangan yang sangat luar biasa. Hingga akhirnya kami sepakat untuk ke sungai dan mencari kebahagian disana.

Sungai Cijurey

Ketika menuju ke sungai kami melewati rumah sepupu jauh yang tinggal disana dengan keluarganya. Sepupu ini ditugaskan sebagai staff administrasi. Dan ada cerita mistis dirumah yang ditinggalinya, yang akan saya ceritakan pada kesempatan lainnya.

Memang daerah disini bisa dibilang masih ‘perawan’. Sangat sedikit penduduk didesa ini, lokasi perkebunan yang terpisah dengan perumahan penduduk makin membuat kebun ini makin terlihat seperti eklusif dan jarang terjamah.

Ilalang yang tinggi, sedikit menyulitkan perjalanan kami ke sungai. Akhirnya sampai didaerah yang dibuat undakan untuk menanam singkong, kami baru bisa bernafas lega, karena tidak ada lagi perdu yang menempel dipakaian kami. Sebetulnya perdu ini cukup menyenangkan, karena ketika istirahat kami berlomba mengumpulkan siapa yang paling banyak ditempeli perdu ini.

Akhirnya sampailah kami disungai Cijurey. Terdapat air terjun kecil setinggi 2 atau 3 meter. Yang tentunya dibawahnya merupakan tempat paling dalam disungai itu.

Kami 8 bersaudara, tetapi waktu itu kakak tertua, almarhum Mas Bambang tidak bisa ikut. Jadilah kami bertujuh dan 1 kakak angkat mendapatkan kesenangan dengan berenang disana.

Sayangnya, saya sampai SMP tidak bisa berenang. Baru ketika dipaksa ibu saya untuk ikut kursus berenang akhirnya bisa. Itu juga cuma bisa gaya katak saja.

Jadi, akhirnya saya menyibukkan diri membuat bendungan dengan cara mengumpulkan bebatuan dan ditumpuk membentang sepanjang sungai.

Melihat permukaan sungai yang makin meninggi karena bendungan yang saya buat, membuat saya makin bersemangat. Apalagi badan sungai yang hanya 3 atau 4 meter tidak terlalu lebar, membuat pekerjaan jadi terasa ringan.

Semakin lama bendungan semakin tinggi, dan ketika itu saya berada disisi yang salah, yaitu dibagian belakang yang dalam. Walau ketika itu rasanya tinggi air mulai sebatas dada saya akhirnya saya tiba-tiba terseret arus air yang berbalik karena ada bendungan dan terseret ke bawah air terjun. Badan seperti tertarik begitu saja, saya begitu kaget dan gelagapan berusaha mencapai atas.

Dasar Sungai Yang Penuh Misteri

Usaha saya seperti sia-sia. Teriakan tolong-tolong seperti hilang tersekat oleh air yang memasuki rongga dada. Hingga akhirnya kaki saya tiba didasar sungai yang dalamnya saya perkirakan sekitar 3 meter.

Air sungai yang tidak begitu bening ketika saya membuat bendungan, agak kecoklatan, tapi makin kedasar terlihat sangat jernih.

Sinar matahari mampu menembus dasar sungai. Saya bisa dengan jelas melihat kakak-kakak saya asik berenang diatas. Kaki mereka ketika dihentakkan seperti membelah air. Saya berteriak-teriak kosong minta tolong. Tapi kakak-kakak saya seperti tidak sadar kalau saya sudah terseret. Saya mencoba mengambil batu didasar sungai dan mencoba melemparnya keatas. Tapi tekanan air bahkan tidak mampu mengangkat tangan saya.

Kemudian saya menyadari, ternyata saya bisa bernafas seperti biasa dibawah air. Saya heran dan berjalan didasar sungai. Saya begitu takjub, ternyata didasar sungai ini begitu luas. Dinding sungai yang saya kira dekat, ternyata ketika saya hampiri, butuh waktu lama untuk mencapainya. Juga dinding sungai ini.. rasanya aneh. Bayangan saya harusnya tanah tapi ini seperti terbuat dari tembok kapur. Putih bersih rata dan membentuk dinding! Saya kaget, dan berusaha mengembalikan kesadaran saya.

Saya mencoba melompat seperti berenang. Walau dengan gaya ngawur, tetapi betul saya mengapung, saya masih didalam air!

Ketika saya diam, kaki saya kembali menginjak dasar sungai. Begitupun ketika melangkah, betul-betul merasakan hambatan air sebagaimana layaknya dalam air. Akhirnya seperti bingung saya berjalan terseok-seok perlahan seperti melawan tekanan air.

Pemandangan dibawah air cuma terlihat seperti padang tidak berujung. Bening tidak ada ikan, hanya sinar matahari yang membentuk garis-garis berpelangi yang berjalan terlihat dihadapan saya. Kemudian akhirnya saya berpapasan dengan seorang wanita berusia 20 atau 30 tahun, yang bertutup kain sampai dadanya. Saya berteriak menyapanya. Tetapi tidak ada cetakan suara yang terdengar.

Wanita itu seperti kaget ketika melihat saya dan tangan kanannya memberi kode seperti menunjuk-nunjuk keatas yang mungkin bertujuan agar saya naik keatas.

Saya hanya menggeleng. Memang saya berusaha buat naik. Tapi tekanan air begitu berat sehingga saya selalu gagal untuk beranjak lebih dari 1 meter dasar sungai ini.

Akhirnya tangan kiri saya dipegang olehnya, dan saya ditarik keatas sungai.

Badan saya seperti melayang naik, dan makin atas saya makin heran. Ketika didasar sungai yang tadinya terang benderang, makin keatas makin gelap dan makin gelap sekali.

Ditemukan

Ketika sampai diatas dan dibimbing ke pinggir sungai, ternyata hari telah malam. Wanita itu menunjuk ke arah kiri. Dan saya tepat berada disebelah bendungan yang saya buat.

Dengan kebingunan saya melihat kekiri dan kekanan, tetapi hanya ada kegelapan. Perasaan takut tiba-tiba muncul. Dan wanita tadi juga tiba-tiba hilang. Saya berteriak-teriak, “Tolong.. tolong…!”

Suara saya terdengar lagi. Dan saya makin semangat berteriak-teriak seperti orang gila.

Saya mulai menangis ketakutan. Karena saya juga bingung harus kemana, arah mana. Yang ada hanya kegelapan dengan pohon-pohon besar dibelakang kedua sisi sungai yang terlihat sangat menyeramkan buat saya.

Dari seberang sungai terlihat seperti ada cahaya. Ternyata lampu petromak yang dipegang oleh si mandor. Dibelakangnya terlihat ibu saya menangis dengan mata sembab. Ayah saya terlihat memegang bahu ibu saya untuk menenangkan.

Tangan saya memberi kode dengan melambaikan tangan kalau saya ada diseberang sungai. Tapi mereka seperti tidak melihat saya. Saya berteriak-teriak. Dan kelihatannya mereka mendengar suara saya. Karena terlihat mereka seperti mencari-cari asal suara.

Entah karena kegelapan yang terlihat memang sangat gelap atau hal lain. Mereka berjalan menjauhi saya.

Saya makin histeris berteriak, “Disini.. disini.. seberang…”

Tapi mereka makin menjauh, saya menyisir pinggir sungai, karena takut menyeberangi sungai. Saya mengikuti arah mereka berjalan menyisiri sungai dari sisi yang lainnya.

Suara saya makin habis dan menjadi serak. Lebar sungai yang makin kesana makin kecil harusnya mereka bisa mendengar suara dan melihat saya, paling juga jaraknya hanya 3 meter saya.

Sampai akhirnya tibalah kami dibawah jembatan yang biasa dilalui kendaraan. Saat itu ada mobil angkutan kecil lewat, dan seperti biasa kalau lewat jembatan pasti membunyikan klakson.

Tapi suara klakson ini ternyata berhasil membuat rombongan itu bisa mendengar suara saya.

Mereka kaget melihat saya berdiri diatas batu besar diatas sungai. Tadinya saya ingin menimpuk dengan batu yang sudah saya siapkan. Tapi mereka sudah bisa melihat saya.

Ibu saya histeris berlari ingin menyeberangi sungai. Tapi ditahan oleh ayah saya. Sehingga sang mandor yang menyeberang. Terlihat air sungai hanya setinggi setengah dengkul saja. Akhirnya semua rombongan berlari kearah saya.

Ketika berada dalam dekapan ibu saya, tenaga saya seperti habis. Saya merasakan kelelahan yang sangat. Sendi-sendi saya lemas seperti tidak bertulang. Saya sampai mengelosoh jatuh dari dekapan ibu, dan akhirnya seperti ada yang mengangkat badan saya.

Tetapi saya sudah sangat lelah, yang ada hanya ingin merebahkan diri, saya tidak tahu siapa yang menggendong saya. Saya tidak peduli.

Kembali ke Benteng

Lamat-lamat terdengar suara mesin genset. Saya terbangun. Terlihat seluruh keluarga berkumpul. Saya ditidurkan dikarpet ditengah ruang utama. Terlihat pak Kyai dari desa Gandasoli yang sudah sangat saya kenal, nanti akan saya ceritakan mengenai Kyai ini dengan karomahnya, duduk bersila disamping sambil mengelus rambut saya.

Saya berusaha untuk duduk, pak Kyai menahan saya agar tetap tiduran.

Ketika saya melihat ujung kaki saya, terlihat wanita tadi yang menolong saya naik kepermukaan, berdiri dengan terbalut kain menutup hingga dada melihat dengan senyum ke saya.

Pak Kyai terlihat seperti bicara dengan wanita tersebut. Hingga akhirnya terlihat wanita itu seperti pamit dan berjalan kearah pintu.

Bau makanan yang ada disebelah saya betul-betul membuat saya kelaparan. Akhirnya saya bangun sambil teriak, “Lapeeerr…”

Semua tertawa. Dan saya dibiarkan saja makan sendirian.

Kakak-kakak saya bertanya saya kemana, ngapain dan berbagai pertanyaan lain. Tetapi lidah saya kelu. Tidak mampu menceritakan. Saya cuma bisa berkata lapar. Ingin tidur.

Esoknya

Kabar saya yang katanya hilang dan akhirnya ditemukan ditengah malam mengundang para penduduk dan pekerja kebun untuk mendatangi saya, entah apa yang ada dibenak mereka. Mereka hanya berdiri saja melihat saya tanpa berkata apa-apa.

Saya ketika itu cuek saja, dengan mainan gimboy yang ketika itu sangat favorit.

Dari penduduk diceritakan kalau air terjun disungai Cijurey itu memang angker. Tidak ada yang berani kesana, disamping lokasinya yang berada dalam perkebunan kami juga memang disekelilingnya dipenuhi pohon besar dan tinggi seolah menutupi air terjun tersebut. Dikatakan disana ditunggu oleh danyang penunggu yang mereka sebut dengan ‘Nyai’. Dan air terjun tersebut adalah ‘istana’-nya.

Entah kenapa ketika ibu dan kakak saya bertanya, saya malas menjawabnya. Saya menganggap itu seperti rahasia. Saya pernah beberapa kali memiliki pengalaman aneh penuh magis, dan ketika saya cerita kepada mereka, selalu dianggap aneh oleh keluarga atau dianggap mengada-ada. Jadi akhirnya, pikiran anak-anak saya ketika itu memilih untuk diam saja dan membiarkan pengalaman spiritual yang saya alami menjadi rahasia pribadi.

Makin dewasa, ketika mengingat kejadian tersebut cara berfikir saya juga makin rasional. Ketika kakak saya ada yang bertanya dulu waktu hilang di-sungai Cijurey saya tuh kemana? Dan saya jawab saya sudah lupa. Padahal ingatan itu sangat jelas seperti terpatri. Tetapi saya berusaha merasionalkan, mungkin ketika itu saya tenggelam dan terseret hingga akhirnya berhalusinasi seperti yang saya lihat itu.

Tapi kemudian bagaimana dengan wanita itu yang bisa hadir ditengah keluarga saya. Apakah keluarga saya tahu? Atau hanya pak Kyai dan saya yang tahu?

Hingga akhirnya rasa penasaran yang kuat mengeluarkan ke kakak perempuan saya, “Mbak, waktu kejadian di Cijurey itu, mbak ada lihat ibu-ibu pake kain sedada dirumah benteng?”

Kakak saya menjawab, “Gak ada, emang lo liat ada? Setan ya?”

Saya diam saja. Tapi kedewasaan dan pengalaman spiritual saya yang makin lengkap meyakinkan memang ada yang magis ketika itu. Tapi wallahu’alam bisawab. Hanya Allah sang Maha Pemilik Alam semesta ini yang bisa menjawabnya.

Penutup

Pada satu kesempatan, saya dengan murid-murid mengadakan acara tirakat ke sungai Cijurey. Dan pertemuan dengan wanita itu kembali terjadi. Tetapi kali ini tentunya bathin saya sudah siap menerima hal-hal yang diluar nalar.

Nantikan tulisan saya berikutnya mengenai pengalaman spiritual saya berjumpa kembali dengan sang “Nyai”.

The post Misteri di Sungai Cijurey Sukabumi appeared first on Paranormal Indonesia.



View the full article




0 pengunjung sedang membaca topik ini

0 member, 0 tamu, 0 anonymous


DMCA.com Protection Status