Jump to content



Photo
- - - - -

Si Keris Combong Kiai Wetu Digmaseno dari Pasar Ikan


  • Please log in to reply
No replies to this topic

#1 Admin

Admin

    Begawan

  • Administrators
  • 469 tulisan
  • LocationJakarta

Ditulis pada 23 Pebruari 2018 - 06:19

Keris Combong

Malam Jum’at di Pasar Ikan

Beberapa hari belakangan ini cuaca sangat tidak mendukung untuk melakukan aktivitas sedot pusaka. Hujan, terkadang hujan petir datang ke lokasi-lokasi yang kami datangi. Sehingga demi efisiensi akhirnya kami fokus melakukan penarikan disekitar Jakarta saja.

Tentunya lokasi favorit adalah Kemayoran dan Pasar Ikan.

Sayangnya cuaca siang hari juga tidak mendukung, akhirnya dilakukanlan penarikan dimalam hari.

Ketika itu hujan di Jakarta baru saja berhenti.

Hari sebelumnya kami juga ke Pasar Ikan, diwaktu yang sama, malam hari. Sekitar pukul 21.00.

Ditempat yang sama, sekitar bekas mercusuar, kami melakukan “Komunikasi” lagi dengan Sang Danyang Penjaga.

Pada hari sebelumnya, sebetulnya kami telah mendapatkan sebilah Keris Jalak (tanpa luk) dari danyang penjaga disini. Dan ada lagi pusaka yang kami incar yang belum keluar pada malam itu.

Kali ini kami mencoba membawa persiapan yang kemarin tidak mungkin kami dapatkan karena masalah waktu.

Dari hasil “komunikasi” dengan Sang Danyang Penjaga, ternyata dia minta syarat tambahan selain yang diminta kemarin. Untungnya kami sudah prediksi. Jadi bahan tambahan untuk barter sudah ada.

Untuk diketahui, penarikan menggunakan Lintang Kamulyaan dimalam hari sangat sulit dilakukan buat saya, tetapi ada beberapa murid yang bisa melakukan penarikan di malam hari dengan menggunakan kepekaan untuk menemukan lokasi pusaka.

Tapi terkadang juga pusaka yang dipegang oleh Sang Danyang Penjaga suatu daerah, berada dalam “dimensi lain”, bila pakai istilah kakak saya almarhum, H. Bambang Irawan. Dimana kalau kita lihat menggunakan kepekaan atau mata bathin, tidak akan bisa kita lihat, atau tidak berada dalam tanah. Sehingga tentunya mustahil untuk kita tarik.

Jadi akhirnya dipilihlah cara lama melalui “komunikasi” secara bathin dengan “Sang Penjaga” disini.

“Komunikasi” dengan Danyang Penjaga

Sebetulnya tidak ada persiapan khusus untuk komunikasi ini, tetapi agar si “Penjaga” senang, kami bakar kemenyan madu agar bau harumnya bisa menyebar.

Angin malam dimusim hujan yang kencang, bersuing-suing ditelinga kami, membuat bau hasil bakaran kemenyan tersebut sama sekali tidak berbekas.

Akhirnya kami mencari lokasi di dekat bangunan yang bisa menghalangi angin.

Tiba-tiba kami dihampiri security disitu. Setelah menjelaskan panjang lebar, akhirnya dia menemani dilokasi tempat kami melakukan ritual untuk komunikasi ini.

Kemenyang kembali dibakar, dan kali ini bau harumnya cukup kuat menyengat hidung kami.

Sayapun meningkatkan kepekaan. Bathin dan raga menyatu dengan alam sekitar.

Ketika suasana tiba-tiba hening, tidak terdengar apapun, dimulailah “komunikasi” dengan Danyang Penjaga disini.

Suara lirih terdengar dalam bathin saya, menjawab salam yang saya berikan.

Dengan sopan saya bertanya mengenai pusaka yang kemarin dijanjikan untuk diberikan kepada kami.

Setelah melalui percakapan singkat, akhirnya kami sediakan bahan yang diminta tersebut.

Setelah bahan-bahan diberikan, kemudian terdengar suara trkkkkk.

Otomatis kami mencari asal suara tersebut.

Kegelapan malam, hanya disinari lampu seadanya disekitar situ, ditambah hujan rintik-rintik halus yang mulai turun membuat mata kami sangat terbatas untuk melihat.

Security bilang, “Rasanya suaranya dari atap genting situ pak.”

Otomatis kami pun melihat kearah yang ditunjuk.

Tapi gelapnya malam, tidak menghasilkan penglihatan apapun.

Si Combong Keluar

Dengan menggunakan flash light dari handphone, kami berusaha menyinari atas genteng yang ditunjuk oleh security tadi.

Karena tidak menemukan apapun juga, akhirnya security mengambil tangga dan disandarkan langsung ke lokasi asal suara yang dia yakini tadi.

Terlihat sang security ini begitu bersemangat, bahkan lebih bersemangat dibandingkan kami.

Dia menaiki tangga, dengan senter besarnya dia arahkan kesegala sudut genting.

Tapi hasilnya nihil menurut dia, “Tidak ada apa-apa pak, padahal yakin saya tadi suaranya dari sini!”

Saya bilang, “Tunggu sebentar pak!”

Terkadang, pusaka yang kita yakini sudah keluar, bahkan memakai Lintang Kamulyaan sekalipun, tidak akan langsung terlihat. Butuh beberapa saat agar pengaruh “panglimunan” hilang. Bahkan saya sekalipun akan terkena efek panglimunan ini, jadi sabar saja.

Kemudian saya berteriak lagi, “Coba cari lagi pak!”

Dijawab, “Siap!!”

Tidak lama kemudian sang security kembali berteriak, “Ada nih pak, keris tapi kecil!!!”

Akhirnya keris pemberian sang Danyang itu dibawa turun dan kami amati.

Penampakan Keris Combong

Tidak seperti keris biasa yang panjangnya sekitar 30cm, keris pemberian Danyang Penjaga ini relatif kecil, hanya sekitar 15cm saja. Berbentuk jalak. Ada karat-karat sedikit disekujur badannya, tapi terlihat sangat terawat buat ukuran pusaka tarikan.

Ditengahnya bolong, atau istilah orang combong. Dipercaya segala yang berbau combong ini untuk pengasihan.

Keris Combong
Keris Combong

Ketika pertama kali memegang pusaka ini, hawa hangat terasa ditelapak tangan saya. Padahal udara ketika itu bisa dibilang dingin, karena hujan sudah betul-betul turun ketika pusaka ini sedang dalam proses pencarian.

Waktu sudah menunjukkan jam 11 malam, akhirnya kami kembali setelah berbasa-basi dengan security tadi dan memberikan sekedarnya atas bantuannya.

Darimana nama Kiai Wetu Digmaseno?

Hasil dari tayuh pusaka tentunya. Silakan para murid yang ingin mengetahui hasil tayuh pusaka ini untuk mengakses forum khusus murid.

Pengalaman spiritual menarik lainnya:
Misteri di Sungai Cijurey

The post Si Keris Combong Kiai Wetu Digmaseno dari Pasar Ikan appeared first on Paranormal Indonesia.



View the full article




0 pengunjung sedang membaca topik ini

0 member, 0 tamu, 0 anonymous


DMCA.com Protection Status