Jump to content



Photo
- - - - -

Ada apa dengan 1 Suro?


  • Please log in to reply
No replies to this topic

#1 Endah Indryono

Endah Indryono

    Begawan

  • Pengasuh
  • 847 tulisan
  • LocationJakarta, Indonesia

Ditulis pada 10 Oktober 2013 - 13:15

Dipost pada 30/01/06 - 12:34 WIB

 

Tahun baru Islam, yang oleh kalangan jawa diperingati sebagai 1 Suro, menyimpan aneka mitos dan teorama. Ada apakah sebetulnya dengan peringatan 1 suro ini? Berikut adalah kupasannya, menurut saya tentunya :)

Kalender jawa yang mengikuti kalender Islam, hanya beberapa nama bulannya berbeda. Lebih kepada kebiasaan orang2 jawa dalam menyebut nama bulan. Begitupun dengan 1 Suro ini yang sebetulnya adalah penanggalan 1 Muharam dalam almanak Islam.

Mitos-mitos yang berkembang dalam masyarakat Jawa bahkan, ada kecenderungan untuk saat ini, suku lain dan kepercayaan lain mulai ikut-ikutan mempercayai mitos akar budaya Jawa ini.

Perlu diketahui, peringatan 1 suro ini umumnya dilakukan oleh kerajaan, khususnya kerajaan Jawa yang bernafaskan Islam, seperti dari Jogjakarta dan Surakarta. Prosesi mistrik berbau spiritual sangat erat kaitannya dengan peringatan 1 suro ini.

Bagi masyarakat Jawa sendiri, peringatan 1 Suro adalah pesta rakyat yang sarat dengan filosofis bernilai tinggi.

Intinya, peringatan 1 suro adalah prosesi rutin berkesinambungan yang dilakukan turun temurun untuk menjaga wibawa kerajaan dan sebagai rasa syukur kepada Tuhan atas segala nikmat yang telah diberikan.

Wibawa kerajaan, sebagai mitos budaya.
Budaya Jawa, sama dengan China, penuh dengan filosofi. China mengenal Naga, sebagai lambang kekuasaan. Orang Jawa mengenal pusaka yang berfungsi sebagai pengayom (penjaga) dan pelindungnya. Pusaka yang berbentuk keris, tombak, trisula, cundrik dan sebagainya ini akan dilakukan proses penjamasan, dibersihkan, dimandikan, dirawat, sehingga nilai kebendaan dari pusaka tersebut dapat tetap terjaga, terhindar dari pengaruh karat dsb. Secara filosofis, penjamasan ini juga bermakna merawat. Merawat penjaga dan pelindung kerajaan selama 1 tahun didepan, yang diharapkan kemudian pengaruhnya mereka dapat tetap dirasarakan oleh segenap rakyat. 

Pusaka-pusaka ampuh berpamor tinggi kemudian akan diarak keliling kota, yang memiliki makna filosofis memperlihatkan kepada seluruh rakyat, bahwa pusaka2 ini masih terawat, masih ada dan senantiasa mengayomi kerajaan. Kemegahan kerajaan juga terlihat disini, parade abdi dalem dengan pakaian khas tradisional mereka menambah kesakralan tradisi ini. 

Begitupun dengan pembagian nasi tumpeng yang dilakukan oleh keluarga kerajaan, sebagai cara bersyukur kepada Tuhan, dengan berbagi kepada sesama, dalam hal ini adalah rakyat mereka. 

Pointnya secara telaah adalah: 1. Merawat pusaka, agar senantiasa terjaga dari karat dan pengaruh umur kebendaan. Dilakukan secara rutin setiap tahun sekali. Bayangkan kalau tidak ada yang merawat secara rutin, nilai seninya tentu akan hilang seusai zaman.

2. Mengarak keliling pusaka untuk memberikan ketentraman secara psikologis kepada rakyatnya.

3. Bersyukur kepada Tuhan dengan berbagi kepada sesama.

4. Menjaga kelestarian budaya, dengan meneruskan kebiasaan-kebiasaan yang dianggap baik.

Anggapan mitos mistis mengenai 1 Suro.
1 suro, dianggap waktu yang paling sakral untuk melakukan ritual khusus tertentu. Mungkin saja betul bila dilihat dari waktunya. 

Dalam 1 tahun, maka diadakanlah waktu khusus untuk melakukan laku spiritual tertentu. Sama seperti sholat Jum'at, hanya hari Jum'at. Atau kegiatan misa Mingguan, hanya dilakukan setiap hari Minggu. Tetapi bukan berarti, kita sholat hanya setiap Jum'at saja, atau sembahyang hanya dihari minggu. Begitupun seperti prosesi menjamasi pusaka ini. Dipilih 1 suro mungkin karena agar gampang diingat, dan tentunya untuk menambah wibawa kerajaan pada saat itu. 

Mungkin juga, karena berbarengan dengan 1 muharam, sebagian besar umat Islam merayakannya dengan bersyukur, bertahmid kepada Allah dan aneka riyadhoh spiritual lainnya, yang menambah nilai spiritual dalam kegiatan tersebut. 

Bisa disimpulkan, praktek mistis kegiatan 1 suro ini erat kaitannya dengan peringatan 1 Muharam yang dilakukan oleh umat Islam sedunia. Dan bila dikaji lagi, sebagai kerajaan Islam, peringatan 1 muharam ini sudah menjadi kegiatan wajib kala itu, mungkin sejak dari zaman wali 9. Yang akhirnya mengalami distorsi arti dan tata cara, berfusi dengan budaya asli jawa yang sarat dengan nilai-nilai klenik dan mitos. 

Mensikapi kegiatan 1 suro. Dalam melihat seluruh kegiatan 1 suro ini, ada baiknya jangan lantas memvonis sebagai kegiatan yang negatif. Sebagai bangsa yang kaya dengan nilai2 budaya, bisa kita lihat peninggalan budaya tersebut tetap lestari dalam bentuknya dan kepercayaannya. Kegiatan 1 suro yang notabene adalah kegiatan 1 muharam, malah mungkin harus tetap kita jaga nilai-nilainya, dan kita bantu luruskan dengan memberikan tinjauan rasional dan tidak terlalu melebih-lebihkan, serta nilai2 filosofis yang ada didalamnya, agar masyarakat kita dimasa yang akan datang dapat lebih menghargai bentuk budaya sebagai warisan nenek moyang, yang merupakan jati diri bangsa ini. Semoga.. kalau ada salah mohon dimaafkan..

 

Link asli: http://old.paranorma...cle.php?sid=265






0 pengunjung sedang membaca topik ini

0 member, 0 tamu, 0 anonymous


DMCA.com Protection Status